Senin, 05 April 2010

Membentuk Madinah Indonesia sebelum Futuhat

Tahap yang paling penting dalam sebuah Revolusi Islam 'ala Rosulullah adalah terbentuknya "Madinah", sebuah tatanan Islam awal dengan dukungan sebagian rakyat yang siap dengan sungguh-sungguh dan iklas mengawal syariat hingga titik darah penghabisan.

"Madinah" bukanlah negara islam yang sempurna. Masih ada golongan musyrikin, Ahlul Kitab yang tidak senang dengan adanya daulah, dan yang paling penting masih ada "Mekah" sebuah Negara kuat yang sebelumnya "menguasai" Yastrib. Sehingga secara politis Negara "Mekah" ini tidak mungkin rela areal kekuasaannya dijadikan basis oleh Rosulullah dalam gerakan berikutnya paska Da'wah yang sudah di tolak di Mekah.

Bagi Rosulullah ini adalah tahapan paling penting dimana Rosulullah mangawali Idharut Thandzim. Mengangkat bendera kekusasaan dengan sebuah wilayah yang secara the facto jelas diakui oleh penduduk disana dan dimanapun termasuk oleh Mekah.

Dari sudut militer, Rosulullah telah mempunyai sebuah benteng luas yang sangat strategis dengan back up tentara (muhajirin dan Ansor) yang siap membela wilayah dan pemimpinnya. bahkan meski harus melakukan serangan ofensif. Secara Ekonomi Madinah ditopang oleh orang-orang yang handal dalam melakukan penguatan Ekonomi secara makro (setelah kedatangan muhajirin yang ahli dagang) ditopang oleh sumber daya alam yang dapat di ekspor dan mendatangkan logistik bagi penduduk meski dalam peperangan.

Hingga dapat disimpulkan, terdapat beberapa poin penting yang dimiliki oleh Rosulullah dalam menghadapi tahapan revolusi berikutnya di Madinah, diantaranya :

1. Pengikut yang Loyal

2. Areal/Teritori yang dikuasai penuh

3. Logistik yang cukup

4. Pengakuan dari seluruh rakyat (baik yang pro maupun yang kontra) tentang penguasaan politik yang dimiliki Rosulullah, di wilayah tersebut.

Maka setelah "bendera" yang ditancapkan di Madinah ini, Rosulullah kemudian mengawali tahap berikutnya dalam sebuah revolusi yang paling lazim (ketika mempertahankan bendera yang sudah ditancapkan) yaitu fayaqtuluna wayuqtaluna (QS. 9:111)

Bagaimana dengan Indonesia yang juga merupakan bumi Allah yang wajib kita bebaskan dari kekuasaan Thogut, dari kejahiliyahan yang dilegalisir, dari kedzaliman yang dibungkus oleh karakter yang santun. Kita kembalikan lagi kepada para pemimpin islam dan umatnya. Apakah tahap yang paling penting ini akan coba dilalui, atau seperti bani israil yang menolak perintah Musa untuk melakukan pembentukan wilayah karena ketakutan yang berlabihan menghadapi qital?? (hingga Allah menyesatkannya dalam kecintaan dunia dan penjajahan syariat hingga 40 tahun di padang Ti'ih) (QS.5:21-26).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar